- GMNI Jatim di Hari Buruh, Tegas Lawan Sistem Kerja yang Memiskinkan
- BREAKING NEWS: Kades Pragaan Daya Sumenep Dikabarkan Ditangkap Kejari
- Peringati Hari Kartini, dr. Erliyati Tekankan Pentingnya Peran Perempuan di Sektor Kesehatan
- MBG Diduga Basi Ditolak Sekolah, Korwil SPPG Sumenep Pilih Diam
- MBG Ditolak Sekolah, SDN Lebeng Barat II Khawatirkan Kesehatan Siswa
- Antara Fakta dan Sensasi, Racikan Narasi di Dapur MBG
- RSUD Sumenep Buka Rekrutmen Pegawai BLUD Non-ASN 2026, Gratis Tanpa Pungutan
- Cetak Generasi Tangguh, Sumenep Gelar Kejuaraan Armwrestling Pelajar
- Ketua DPD GMNI Jatim Soroti Prioritas, Pendidikan dan Kesehatan Gratis Didahulukan
- Hj. Toyyibah Tegaskan Komitmen Pelayanan Saat Pemberangkatan Umroh
GMNI Jatim di Hari Buruh, Tegas Lawan Sistem Kerja yang Memiskinkan

Surabaya, 1 Mei 2026 - Dalam momentum peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GMNI Jawa Timur menyampaikan pernyataan sikap tegas terkait kondisi buruh di Indonesia.
Organisasi mahasiswa nasionalis itu menilai bahwa sejarah bangsa tidak pernah terlepas dari peran penting kaum pekerja sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Ketua DPD GMNI Jawa Timur, Hendra Prayogi, SH. menegaskan bahwa buruh bukan sekadar faktor produksi, melainkan bagian dari konsep Marhaen yang diperjuangkan Soekarno. Menurutnya, buruh adalah manusia merdeka yang harus dijamin hak-haknya oleh negara.
Baca Lainnya :
- BREAKING NEWS: Kades Pragaan Daya Sumenep Dikabarkan Ditangkap Kejari0
- Peringati Hari Kartini, dr. Erliyati Tekankan Pentingnya Peran Perempuan di Sektor Kesehatan0
- MBG Diduga Basi Ditolak Sekolah, Korwil SPPG Sumenep Pilih Diam0
- MBG Ditolak Sekolah, SDN Lebeng Barat II Khawatirkan Kesehatan Siswa0
- Antara Fakta dan Sensasi, Racikan Narasi di Dapur MBG0
“Upah murah, sistem outsourcing tanpa kepastian, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak merupakan bentuk penjajahan gaya baru. Negara harus hadir memastikan kerja layak, upah adil, dan jaminan sosial yang menyeluruh,” tegasnya, Jumat (1/5/2026).
Dalam pernyataan tersebut, GMNI Jawa Timur menyampaikan tiga poin utama sikap. Pertama, menolak sistem kerja yang dinilai memiskinkan buruh. Kedua, mendorong industrialisasi yang berpihak kepada rakyat, di mana investasi dan hilirisasi tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga pekerjaan berkualitas dengan kepastian masa depan.
Selain itu, GMNI juga menekankan pentingnya persatuan antara buruh, petani, dan mahasiswa sebagai kekuatan perubahan sosial. Mereka menilai, sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar lahir dari solidaritas lintas sektor.
“Jangan mau dipecah-belah oleh isu upah. Musuh kita adalah sistem ekonomi yang tidak adil,” lanjut Hendra.
DPD GMNI Jawa Timur juga menegaskan komitmennya untuk terus berada di barisan perjuangan buruh dalam mewujudkan cita-cita Trisakti, yakni kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan.
Di akhir pernyataannya, GMNI menyerukan semangat perjuangan kepada seluruh buruh di Jawa Timur dan Indonesia agar terus menyuarakan haknya secara konstitusional.
“Hidup Buruh! Hidup Rakyat Indonesia! Merdeka!” pungkasnya. (Adm)









