- Sempat Mengaku Tak Tahu, Pengelola SPPG Aeng Dake 2 Kini Sebut Keluhan Limbah Bohong
- Warga Pertanyakan Pengelolaan Limbah SPPG Al-Azhar Aeng Dake yang Menimbulkan Bau
- Merawat Api Perjuangan Sang Proklamator, Lenteng Bangun Sinergi Lintas Elemen
- Ketua PAC Lenteng : Semangat Pancasila Harus Hidup di Hati Milenial dan Gen Z
- Hari Lahir Pancasila, Direktur RSUD Sumenep Ajak Tenaga Kesehatan Perkuat Nilai Kemanusiaan
- Maknai Hari Lahir Pancasila, Didik Haryanto Sebut Batik Perekat Persatuan Bangsa
- Ketua KNPI Sumenep Ajak Pemuda Jadikan Pancasila Sebagai Pedoman Aksi Nyata
- Mari Kita Buat MR Ball Lebih Megah
- Puluhan Kader Ansor Digembleng Jadi Penggerak Umat
- Minim Perhatian, Kelas Bocor Ganggu Aktivitas Belajar
Sempat Mengaku Tak Tahu, Pengelola SPPG Aeng Dake 2 Kini Sebut Keluhan Limbah Bohong

SUMENEP - Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al-Azhar Aeng Dake 2, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, akhirnya buka suara terkait keluhan warga mengenai aroma tidak sedap yang diduga berasal dari aktivitas dapur program tersebut.
Menariknya, klarifikasi itu muncul setelah berita mengenai keluhan warga dipublikasikan. Sebelumnya, saat dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon, Asniyah selaku pihak yayasan mengaku tidak mengetahui persoalan yang dikeluhkan warga.
"Saya tidak tahu, Mas. Saya tidak tahu, Mas. Maaf ya, saya tidak tahu," ujar Asniyah saat dihubungi sebelum berita diterbitkan.
Baca Lainnya :
- Warga Pertanyakan Pengelolaan Limbah SPPG Al-Azhar Aeng Dake yang Menimbulkan Bau 0
- Merawat Api Perjuangan Sang Proklamator, Lenteng Bangun Sinergi Lintas Elemen0
- Ketua PAC Lenteng : Semangat Pancasila Harus Hidup di Hati Milenial dan Gen Z0
- Hari Lahir Pancasila, Direktur RSUD Sumenep Ajak Tenaga Kesehatan Perkuat Nilai Kemanusiaan0
- Maknai Hari Lahir Pancasila, Didik Haryanto Sebut Batik Perekat Persatuan Bangsa0
Namun, setelah pemberitaan tayang, Asniyah mengirimkan pesan suara kepada media ini yang berisi bantahan atas informasi yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengelolaan limbah di SPPG Aeng Dake 2 telah dilakukan melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tersedia di lokasi.
"Assalamualaikum, itu ndak usah dibahas. Itu sudah ada IPAL-nya, kan sudah jelas di depan dapur itu sudah ada IPAL. Sebenarnya urusan SPPG itu sudah ada IPAL-nya dan limbah itu diproses di IPAL," kata Asniyah.
Ia bahkan menyebut informasi yang disampaikan dalam keluhan tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
"Pernyataan itu tidak sesuai, itu bohong," tegasnya.
Lebih lanjut, Asniyah menjelaskan bahwa SPPG Aeng Dake 2 telah mendapat kunjungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait pengelolaan limbah dan sampah yang dihasilkan dari operasional dapur.
Menurutnya, sampah yang dihasilkan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah menjadi kompos oleh petugas kebersihan.
"Kemarin di SPPG Aeng Dake 2 itu sudah didatangi oleh DLH. Ada kunjungan dari DLH. Masalah limbah atau sampah itu dibuat kompos. Kalau tidak percaya silakan cek sendiri, itu sudah dibuat kompos oleh bagian kebersihan," ujarnya.
Dalam pesan suara tersebut, Asniyah juga sempat menyinggung bahwa lokasi pendidikan yang sebelumnya disebut dalam pemberitaan berada dalam pengelolaannya. Namun ia menegaskan bahwa kondisi lingkungan di sekitar area tersebut dapat dicek langsung untuk memastikan pengelolaan sampah yang dilakukan pihak SPPG.
Sebelumnya, sejumlah warga mengeluhkan adanya aroma tidak sedap yang diduga berasal dari aktivitas SPPG Aeng Dake 2. Warga berharap adanya perhatian terhadap pengelolaan limbah agar tidak mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.
Perbedaan keterangan yang disampaikan Asniyah sebelum dan sesudah berita terbit menjadi bagian dari dinamika yang muncul dalam persoalan ini. Di satu sisi terdapat keluhan warga terkait dugaan bau limbah, sementara di sisi lain pihak pengelola menegaskan bahwa limbah telah diproses melalui IPAL dan sampah diolah menjadi kompos. (Adm)









