- BRI Sumenep Hormati Proses Hukum Kasus Dugaan Fraud, Tegaskan Kebijakan Zero Tolerance
- HIMA 2026 Perkenalkan Logo Baru, Gaungkan Semangat Generasi Emas
- Grafiti Bernada Protes Ekonomi Muncul di Malang, Sentil Mahalanya Harga Kebutuhan
- Khidmat untuk Umat, Program Rumah Yatim Ansor Lenteng Dipuji Kemenag Sumenep
- Skandal MBG Menggelinding, LSM Bidik Ingatkan Tak Ada Pejabat yang Kebal Hukum
- LSM Bidik Minta Kejagung dan KPK Turun Tangan, Periksa Dugaan Jual Beli Titik MBG di Madura
- GMNI Jatim : Pelemahan Rupiah Pertegas Pentingnya Kembali ke Jalan Berdikari Bung Karno
- Sempat Mengaku Tak Tahu, Pengelola SPPG Aeng Dake 2 Kini Sebut Keluhan Limbah Bohong
- Warga Pertanyakan Pengelolaan Limbah SPPG Al-Azhar Aeng Dake yang Menimbulkan Bau
- Merawat Api Perjuangan Sang Proklamator, Lenteng Bangun Sinergi Lintas Elemen
Minim Perhatian, Kelas Bocor Ganggu Aktivitas Belajar

Sumenep - Kondisi ruang kelas di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mambaul Ulum, Lenteng Barat, Kabupaten Sumenep, semakin memprihatinkan. Selain atap yang bocor saat hujan, air yang masuk ke dalam kelas bahkan membuat tulisan di papan tulis hilang dengan sendirinya, sehingga mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
Seorang guru di sekolah tersebut yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kebocoran terjadi setiap kali hujan turun, dan berdampak langsung pada kegiatan belajar siswa.
“Kalau hujan, air menetes sampai ke papan tulis. Tulisan yang sudah dijelaskan ke siswa jadi hilang karena kena air. Jadi kami harus mengulang penjelasan dari awal,” ujarnya.
Baca Lainnya :
- Polda Jatim Musnahkan 22,22 Kg Kokain Temuan Pesisir Sumenep0
- Hendra Prayogi: Negara Salah Prioritas, Pendidikan Gratis Harus Didahulukan0
- Hari Buruh, Direktur BPRS Bhakti Sumekar Dorong Kesejahteraan Pekerja0
- GMNI Jatim di Hari Buruh, Tegas Lawan Sistem Kerja yang Memiskinkan0
- BREAKING NEWS: Kades Pragaan Daya Sumenep Dikabarkan Ditangkap Kejari0
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menghambat penyampaian materi, tetapi juga menurunkan efektivitas pembelajaran di kelas. Siswa kerap kehilangan fokus karena harus berpindah tempat atau terganggu oleh tetesan air.
“Kadang siswa harus dipindahkan, kadang tetap bertahan tapi tidak nyaman. Ini jelas tidak ideal untuk proses belajar,” tambahnya.
Pihak sekolah disebut telah berupaya melakukan perbaikan secara mandiri, namun keterbatasan dana membuat perbaikan tidak bertahan lama.
“Kami hanya bisa memperbaiki seadanya. Kalau hujan deras, tetap bocor lagi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti minimnya perhatian dari pemerintah. Selama ini, MI Mambaul Ulum Lenteng Barat belum pernah mendapatkan bantuan berupa rehabilitasi bangunan maupun pembangunan ruang kelas baru.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah. Fasilitas yang layak itu penting untuk menunjang pendidikan anak-anak,” tegasnya.
Hingga kini, kondisi tersebut masih berlangsung dan menjadi keluhan utama di lingkungan sekolah. Diharapkan, pihak terkait segera turun tangan untuk melakukan perbaikan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lebih baik dan nyaman. (Adm)










