- BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Bijak Kelola THR Agar Tidak Habis Seketika
- Dies Natalis GMNI ke-72, Hairil Fajar: Perkuat Semangat Marhaenisme di Era Modern
- Kemenag Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal Belum Memenuhi Syarat
- Jelang Idul Fitri, Rumah Kebangsaan Jatim dan Polda Jatim Berbagi untuk Mahasiswa
- Bersama PAC PDI-P Guluk-Guluk, H. Abd Rahman Santuni Anak Yatim
- Ramadhan Peduli Warnai Kebersamaan Warga Pinggir Papas
- Peduli PKL di Bulan Ramadhan, Sulahuddin Salurkan Sembako dan Bukber Bersama PAC Lenteng
- GMNI Jawa Timur Minta Aparat Usut Tuntas Teror terhadap Aktivis Andrie Yunus
- Sentuhan Kepedulian PAC PDI-P Lenteng untuk Anak Yatim
- Pengajian Akbar dan Santunan Anak Yatim Peringati Nuzulul Quran di Lenteng Barat
BPRS Bhakti Sumekar Ajak Warga Bijak Kelola THR Agar Tidak Habis Seketika

Sumenep - Setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat diingatkan untuk lebih bijak dalam mengelola Tunjangan Hari Raya (THR). Pasalnya, meningkatnya kebutuhan konsumsi saat Lebaran kerap membuat THR cepat habis tanpa perencanaan yang matang.
Melihat kondisi tersebut, PT BPRS Bhakti Sumekar mengajak masyarakat untuk mengatur keuangan secara lebih terukur, agar THR tidak hanya habis untuk kebutuhan sesaat, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menegaskan bahwa THR seharusnya tidak dihabiskan begitu saja. Ia menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak agar kondisi finansial tetap stabil setelah Lebaran.
Baca Lainnya :
- Dies Natalis GMNI ke-72, Hairil Fajar: Perkuat Semangat Marhaenisme di Era Modern0
- Kemenag Prediksi Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret, Hilal Belum Memenuhi Syarat0
- Jelang Idul Fitri, Rumah Kebangsaan Jatim dan Polda Jatim Berbagi untuk Mahasiswa0
- Bersama PAC PDI-P Guluk-Guluk, H. Abd Rahman Santuni Anak Yatim0
- Ramadhan Peduli Warnai Kebersamaan Warga Pinggir Papas0
“THR bukan untuk dihabiskan, melainkan harus dikelola dengan baik agar keuangan tetap terjaga setelah Hari Raya,” ujarnya.
Dalam edukasi yang diberikan, masyarakat disarankan membagi THR ke dalam beberapa pos pengeluaran. Di antaranya, 40 persen untuk kebutuhan Lebaran, 30 persen ditabung, 20 persen dialokasikan untuk sedekah atau infak, dan 10 persen untuk kebutuhan pribadi sebagai bentuk apresiasi diri.
Menurutnya, pembagian tersebut penting untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi, tabungan, dan kepedulian sosial. Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang cenderung menghabiskan THR hanya untuk kebutuhan jangka pendek.
Hairil Fajar menambahkan, menabung menjadi hal penting sebagai langkah antisipasi kebutuhan mendesak di masa depan. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak melupakan nilai berbagi, terutama di momen Ramadan dan Idulfitri.
“Sedekah tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan,” tambahnya.
BPRS Bhakti Sumekar berharap melalui edukasi ini, masyarakat semakin sadar pentingnya perencanaan keuangan, sehingga THR tidak habis sia-sia dan tetap memberikan manfaat setelah Lebaran berlalu. (Adm)









