- Proyek Gudang Bawang Merah DKPP Sumenep Rp1 Miliar Menuai Sorotan Publik
- Momentum HPN, Kepala DKPP Sumenep Tekankan Peran Pers
- Momentum HPN, Direktur BPRS Sumenep Ungkap Pentingnya Peran Pers
- HPN 2026, Direktur RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Tekankan Peran Strategis Pers
- Hadiri RS BHC Run 2026, MH Said Abdullah Tegaskan Komitmen Dukung Kesehatan Publik
- DKPP Sumenep Dorong Konsumsi Pangan Lokal demi Gizi Masyarakat
- Peringati Hari Gizi Nasional, RSUD Sumenep Ingatkan Pentingnya Makan Sehat
- Aktivitas Galian C Dekat Asta Tinggi Tuai Sorotan Paguyuban Potra-Potre Madura: Kesakralan Rusak!
- GMNI Jatim Tegas Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, Dinilai Ancam Hak Politik Rakyat
- Retrebusi Pantai Slopeng Diduga Tak Sesuai Perda, Kepala Disbudporapar Angkat Bicara
Iklil: Sila Kelima Pancasila Telah Dibunuh oleh Sistem yang Zalim

SUMENEP – Bulan Agustus yang selama ini menjadi simbol semangat kemerdekaan justru dinilai semakin kehilangan maknanya. Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia tahun ini dibayangi ironi sosial yang tajam. Banyak pihak menilai bahwa Pancasila, terutama sila kelima "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia", tak lagi terasa dalam kehidupan rakyat kecil.
Secara tekstual, Pancasila memang masih utuh. Namun dalam praktiknya, sila kelima disebut hanya tinggal slogan. Keadilan sosial dianggap telah kehilangan ruhnya di tengah kesenjangan yang makin menganga.
“Kita lihat para pejabat menikmati makan malam seharga puluhan juta rupiah, sementara rakyat kecil berebut bantuan lima kilo beras. Hukum pun semakin tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” ujar Moh. Iklil, salah satu tokoh pemuda di Kabupaten Sumenep.
Baca Lainnya :
- Kegiatan PERKAJUM Annuqayah Berakhir Duka, Seorang Peserta Meninggal Tenggelam di Waduk0
- Tom Lembong Nilai Abolisi Sebagai Pemulihan Nama Baik0
- Hasto Kristiyanto Tinggalkan Rutan KPK, Siap Lapor ke Megawati0
- Presiden Prabowo Tetapkan 18 Agustus 2025 sebagai Hari Libur Bersama Usai HUT ke-80 RI0
- Jokowi Akui Pernah Perintahkan Tom Lembong untuk Impor Gula0
Pria yang kerap disapa Iklil juga menyoroti nasib rakyat kecil yang makin termarjinalkan. Petani kehilangan tanah karena proyek raksasa, nelayan terusir dari lautnya sendiri, dan buruh hanya dihargai dengan upah yang tidak mencukupi untuk hidup layak.
“Sementara mereka yang duduk di kursi empuk terus berbicara soal pemerataan, kenyataannya itu hanya untuk menjaga kekuasaan. Keadilan bukan untuk seluruh rakyat, tapi hanya untuk sebagian kecil yang punya akses dan kekuatan,” tegasnya.
Menurut Iklil, sila kelima tidak mati karena dilupakan, melainkan karena dibunuh oleh keserakahan, oleh korupsi, dan oleh sistem yang membiarkan ketimpangan tumbuh subur di negeri yang katanya merdeka.
“Sila kelima bukan mati karena lupa. Ia mati karena dibunuh. Nauzubillah,” pungkasnya (adm)










