- Khidmat untuk Umat, Program Rumah Yatim Ansor Lenteng Dipuji Kemenag Sumenep
- Skandal MBG Menggelinding, LSM Bidik Ingatkan Tak Ada Pejabat yang Kebal Hukum
- LSM Bidik Minta Kejagung dan KPK Turun Tangan, Periksa Dugaan Jual Beli Titik MBG di Madura
- GMNI Jatim : Pelemahan Rupiah Pertegas Pentingnya Kembali ke Jalan Berdikari Bung Karno
- Sempat Mengaku Tak Tahu, Pengelola SPPG Aeng Dake 2 Kini Sebut Keluhan Limbah Bohong
- Warga Pertanyakan Pengelolaan Limbah SPPG Al-Azhar Aeng Dake yang Menimbulkan Bau
- Merawat Api Perjuangan Sang Proklamator, Lenteng Bangun Sinergi Lintas Elemen
- Ketua PAC Lenteng : Semangat Pancasila Harus Hidup di Hati Milenial dan Gen Z
- Hari Lahir Pancasila, Direktur RSUD Sumenep Ajak Tenaga Kesehatan Perkuat Nilai Kemanusiaan
- Maknai Hari Lahir Pancasila, Didik Haryanto Sebut Batik Perekat Persatuan Bangsa
Berapa Uang Pemkab Sumenep yang Diendapkan di Bank?

Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya bisa mengguncang publik Sumenep.
Berapa sebenarnya uang rakyat yang saat ini mengendap manis di rekening-rekening bank milik Pemkab Sumenep? Apakah uang itu sengaja “diparkir” agar terlihat rapi di laporan keuangan, atau justru ada permainan kepentingan di balik saldo yang tidak segera digerakkan untuk kesejahteraan rakyat?
Sementara masyarakat di pelosok masih berjuang mencari air bersih, jalan desa rusak parah, dan UMKM menjerit karena minim modal, Pemkab tampak nyaman menimbun dana. Uang rakyat seolah bukan untuk rakyat, tapi untuk mempercantik angka-angka dalam laporan akhir tahun.
Baca Lainnya :
- HIMAKSI UNIBA Madura Gelar Stadium General, Tekankan Profesional Auditor Di Era Digital0
- Pengurus PMII UNIBA Dilantik, Rektor: UNIBA Besar karena PMII0
- BEM-KM UNIBA Madura Bawa Tuntutan Isu Lokal Ke Nasional0
- PMII Uniba Madura Gelar Pelatihan Menulis dalam Rangkaian Suluh Sumbu Pergerakan0
- PMII UNIBA Madura Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW & Forum Taliasi1
Apakah uang tersebut memang belum terserap karena buruknya perencanaan dan birokrasi yang lambat? Atau karena adanya motif lain, bunga bank yang menggiurkan, atau bahkan “kerjasama strategis” yang tak pernah transparan?
Publik berhak tahu!
Uang yang diendapkan itu bukan milik pribadi pejabat, melainkan milik masyarakat Sumenep. Setiap rupiah yang tidak terserap adalah potensi kesejahteraan yang tertunda. Dan setiap hari keterlambatan adalah bentuk ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat kecil.
Sudah saatnya DPRD dan lembaga pengawas turun tangan. Audit terbuka, bukan basa-basi. Karena ketika uang rakyat diam di bank, kesejahteraan ikut mati pelan-pelan.
Oleh: Jong Sumekar










