- PT Galaksi Yakusa Pers Layangkan Surat Keberatan Terbuka kepada UNIBA, Soroti Pembatalan Musicvers 2
- Mitra MBG di Jatim Cemas Kebijakan Baru, Khawatir Operasional Dapur dan Nasib Pekerja Terganggu
- Evaluasi MBG hingga Koperasi Merah Putih, Ini Sikap Cipayung Plus Jatim
- PRNU Lenteng Barat Luncurkan Program Kambing Bergilir, Dorong Kemandirian Ekonomi Warga NU
- BRI Sumenep Hormati Proses Hukum Kasus Dugaan Fraud, Tegaskan Kebijakan Zero Tolerance
- HIMA 2026 Perkenalkan Logo Baru, Gaungkan Semangat Generasi Emas
- Grafiti Bernada Protes Ekonomi Muncul di Malang, Sentil Mahalanya Harga Kebutuhan
- Khidmat untuk Umat, Program Rumah Yatim Ansor Lenteng Dipuji Kemenag Sumenep
- Skandal MBG Menggelinding, LSM Bidik Ingatkan Tak Ada Pejabat yang Kebal Hukum
- LSM Bidik Minta Kejagung dan KPK Turun Tangan, Periksa Dugaan Jual Beli Titik MBG di Madura
Berapa Uang Pemkab Sumenep yang Diendapkan di Bank?

Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya bisa mengguncang publik Sumenep.
Berapa sebenarnya uang rakyat yang saat ini mengendap manis di rekening-rekening bank milik Pemkab Sumenep? Apakah uang itu sengaja “diparkir” agar terlihat rapi di laporan keuangan, atau justru ada permainan kepentingan di balik saldo yang tidak segera digerakkan untuk kesejahteraan rakyat?
Sementara masyarakat di pelosok masih berjuang mencari air bersih, jalan desa rusak parah, dan UMKM menjerit karena minim modal, Pemkab tampak nyaman menimbun dana. Uang rakyat seolah bukan untuk rakyat, tapi untuk mempercantik angka-angka dalam laporan akhir tahun.
Baca Lainnya :
- HIMAKSI UNIBA Madura Gelar Stadium General, Tekankan Profesional Auditor Di Era Digital0
- Pengurus PMII UNIBA Dilantik, Rektor: UNIBA Besar karena PMII0
- BEM-KM UNIBA Madura Bawa Tuntutan Isu Lokal Ke Nasional0
- PMII Uniba Madura Gelar Pelatihan Menulis dalam Rangkaian Suluh Sumbu Pergerakan0
- PMII UNIBA Madura Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW & Forum Taliasi1
Apakah uang tersebut memang belum terserap karena buruknya perencanaan dan birokrasi yang lambat? Atau karena adanya motif lain, bunga bank yang menggiurkan, atau bahkan “kerjasama strategis” yang tak pernah transparan?
Publik berhak tahu!
Uang yang diendapkan itu bukan milik pribadi pejabat, melainkan milik masyarakat Sumenep. Setiap rupiah yang tidak terserap adalah potensi kesejahteraan yang tertunda. Dan setiap hari keterlambatan adalah bentuk ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat kecil.
Sudah saatnya DPRD dan lembaga pengawas turun tangan. Audit terbuka, bukan basa-basi. Karena ketika uang rakyat diam di bank, kesejahteraan ikut mati pelan-pelan.
Oleh: Jong Sumekar










