Breaking News
- Khidmat untuk Umat, Program Rumah Yatim Ansor Lenteng Dipuji Kemenag Sumenep
- Skandal MBG Menggelinding, LSM Bidik Ingatkan Tak Ada Pejabat yang Kebal Hukum
- LSM Bidik Minta Kejagung dan KPK Turun Tangan, Periksa Dugaan Jual Beli Titik MBG di Madura
- GMNI Jatim : Pelemahan Rupiah Pertegas Pentingnya Kembali ke Jalan Berdikari Bung Karno
- Sempat Mengaku Tak Tahu, Pengelola SPPG Aeng Dake 2 Kini Sebut Keluhan Limbah Bohong
- Warga Pertanyakan Pengelolaan Limbah SPPG Al-Azhar Aeng Dake yang Menimbulkan Bau
- Merawat Api Perjuangan Sang Proklamator, Lenteng Bangun Sinergi Lintas Elemen
- Ketua PAC Lenteng : Semangat Pancasila Harus Hidup di Hati Milenial dan Gen Z
- Hari Lahir Pancasila, Direktur RSUD Sumenep Ajak Tenaga Kesehatan Perkuat Nilai Kemanusiaan
- Maknai Hari Lahir Pancasila, Didik Haryanto Sebut Batik Perekat Persatuan Bangsa
Mengurai Polemik Seismik Migas di Kangean, Benarkah Ada Aktor di Balik Gejolak?

Sumenep – Polemik penolakan survei seismik migas di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, kembali mencuri perhatian publik. Aktivitas yang sejatinya masih dalam tahap pemetaan menggunakan teknologi eksplorasi modern itu menuai resistensi sebagian warga.
Pemerintah pusat sebenarnya tengah mendorong eksplorasi migas untuk menjaga ketahanan energi nasional. Namun, di sisi lain, keresahan masyarakat setempat terkait dampak lingkungan dan sosial belum sepenuhnya terjawab.
Akademisi Saiful Bahri menilai kondisi ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut. “Suasana di Kangean sedang panas. Masyarakat perlu benar-benar memahami apa itu seismik agar tidak mudah dimanfaatkan pihak lain,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan yang jernih dan transparan dari pemerintah kepada masyarakat. “Dengan akses digital yang terbuka lebar, mestinya pemahaman publik lebih mudah dibangun. Jangan sampai warga termakan provokasi yang akhirnya justru merugikan mereka sendiri,” tambahnya.
Di lapangan, sejumlah warga disebut enggan membuka ruang dialog, memilih tetap menyuarakan penolakan tanpa kompromi. Kondisi ini kemudian memunculkan dugaan adanya aktor tertentu yang menunggangi gejolak sosial. “Kalau sudah melawan aturan dan cenderung memusuhi negara, itu bisa masuk kategori perbuatan melawan hukum. Jangan biarkan masyarakat kita jadi korban kepentingan segelintir orang,” pungkas Saiful. (Adm)
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments










